Menikmati secangkir coklat panas diantara suara guyur hujan, berteman serakan lembar kertas di atas meja, mengulang bayang hari-hari lalu bersama mu.
Aku kembali meneguk coklat panas ku, ada segelintir rasa pahit, ada juga rasa manis. Entah kenapa rasa itu membuat bibir ku refleks tersenyum, seperti dua asing yang bertemu dan berkenalan.
Tetes hujan semakin menderas, seperti kesempatan kedua yang hampir tidak mempunyai kesempatan. Lewat awan mereka saling menyapa, jatuh bersama, terpisah lalu dipersatukan dengan tetes lainnya. Entah apa yang bisa membuat dua tetes itu kembali bertemu.
Kadang aku mencoba untuk mengerti, tapi yang ku mengerti hanya seperti sebuah garis dalam kumpulan difraksi cahaya. Namun aku cukup memahami, kamu bukan hanya setetes yang bersatu dengan tetes lainnya, kamu adalah tetes terbening diantara mereka, kamu tak perlu warna untuk membuat ku jatuh cinta. Aku jatuh cinta lewat senyum mata mu. Senyum tulus yang tak pernah asing untuk ku.
Dulu kita bertemu, berkenalan kemudian saling menyapa.
Lalu oleh waktu, kita hampir melupakan. Sampai aku melihat satu titik bening di antara dunia ku yang sekarang.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar